Seputar Dunia dan Akhirat

Seputar Dunia dan Akhirat

Senin, 21 Maret 2011

Militer AS minta maaf atas foto-foto kekerasan pasukannya

Militer AS minta maaf atas foto-foto kekerasan pasukannya

WASHINGTON (Arrahmah.com) - Militer AS menyatakan permintaan maafnya pada Senin (21/3/2011) atas sejumlah foto yang memperlihatkan kekerasan pasukan Amerika Serikat yang sedang bertugas di Afghanistan.

Militer AS menyatakan bahwa tindakan yang terlihat di dalam gambar-gambar tersebut "sangat menjijikkan dan bertentangan dengan standar dan nilai-nilai Angkatan Darat Amerika Serikat."

Majalah mingguan Jerman, Der Spiegel, Senin sebelumnya mempublikasikan foto yang menunjukkan dua tentara AS di Afghanistan berpose dengan jasad warga sipil Afghanistan.

Lima tentara dari salah satu unit militer di Afghanistan telah didakwa dengan pembunuhan atas tuduhan menembak warga sipil Afghanistan hanya untuk memuaskan diri mereka dan tujuh orang lain yang terlibat dalam pelanggaran lainnya.

Dua foto lainnya, menurut Spiegel, telah diminta oleh pemerintah AS untuk dirahasiakan, memperlihatkan dua wajah anggota unit.

Dalam salah satu foto, seorang prajurit yang menjepit sebatang rokok di tangannya, memegang kepala korban yang masih berlumur darah. Dalam fot lainnya, terlihat dua korban tewas tersandar lunglai.

"Kami mohon maaf atas foto-foto yang membahayakan ini," kata militer.

Militer pun menegaskan pihaknya sedang melakukan penyelidikan lebih dalam dan sedang memproses kasus ini agar bisa ditindak langsung oleh pengadilan militer.

"Biar proses pengadilan militer berbicara sendiri," kata tentara. "Foto-foto ini bertentangan dengan dengan profesionalisme, disiplin, dan tidak sama sekali menghormati kinerja tentara kami selama hampir 10 tahun operasi berkelanjutan."

Spiegel mengatakan, militer AS berusaha mencegah penerbitan gambar tersebut karena takut akan munculnya reaksi yang akan semakin menyusahkan pasukannya di Afghanistan.

"Spiegel mempublikasikan hanya tiga dari 4.000 gambar dan video," kata majalah itu.

Kamis, 10 Maret 2011

Sepupu Presiden Karzai Tewas Ditembak Pasukan NATO

Sepupu Presiden Karzai Tewas Ditembak Pasukan NATO

Eramuslim.com. Pasukan pimpinan Amerika telah menembak dan membunuh seorang sepupu Presiden Afghanistan Hamid Karzai setelah terjadi serangan di rumahnya di distrik dand provinsi Kandahar di Afghanistan selatan.

Pasukan Khusus AS tiba dengan menggunakan helikopter di desa Karz dan menyerbu rumah Haji Yar Mohammad Khan pada Rabu malam lalu, Press TV mendapat laporan.

"Haji Mohammad Khan Yar syahid dalam operasi itu," kata Gubernur Hamdullah Nazek.

Namun Nazek menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut. Dia menunjukkan bahwa penyelidikan lebih lanjut sedang dilakukan.

Ahmad Wali Karzai, adik presiden Karzai dan ketua dewan provinsi Kandahar, juga telah menegaskan pembunuhan tersebut.

Sementara itu, warga turun ke jalan-jalan di Kandahar, meneriakkan slogan-slogan anti-AS untuk memprotes serangan pimpinan AS terhadap warga sipil di desa Jiri.

Sebelumnya pada hari Rabu, pasukan Jerman yang berbasis di Afghanistan utara menewaskan seorang perempuan warga sipil dan melukai lainnya selama insiden penembakan yang terjadi di wilayah itu.(fq/prtv)

Pelatihan anti-Teror AS = Penyebaran anti-Islam

Pelatihan anti-Teror AS = Penyebaran anti-Islam

NEW YORK (Arrahmah.com) - Pemerintah AS mengucurkan jutaan dolar untuk membiayai pelatihan bagi para petugas kepolisian dan penegak hukum lainnya dalam rangka memberikan gambaran menyimpang, berbahaya, dan menghasut tentang Islam.

Politic Research Associates (PRA), sebuah thinktank progresif berbasis Massachusetts, menghabiskan sembilan bulan untuk menyelidiki perkembangan dari pelatihan anti-teror yang digagas oleh Amerika Serikat. Hal ini disimpulkan bahwa pada sejumlah seminar dan konferensi di seluruh Amerika, para peserta (yang terdiri dari aparat polisi dan penegak hukum) selalu diberi kesan miring mengenai Islam sebagai agama kekerasan dan teror.

PRA memberi contoh satu pelatihan konferensi pada Oktober tahun lalu oleh Counter-Terrorism Officers Association, suatu badan yang dibentuk oleh petugas polisi New York pasca 11 September. Konferensi ini disajikan oleh Walid Shoebat, salah seorang pembicara yang sering digunakan oleh beberapa lembaga pelatihan swasta.

Shoebat saat ini adalah penganut agama Kristen, setelah sebelumnya menjadi Muslim yang mengklaim memiliki keterkaitan dengan Organisasi Pembebasan Palestina. Dalam presentasinya, yang berjudul "Mindset Jihad dan Cara Mengalahkannya", ia menuduh Muslim adalah pemerkosa perempuan dan anak-anak.

"Mereka adalah pedofil!" teriaknya.

Menurut laporan itu, Shoebat melanjutkan: "Seorang Muslim akan dengan senang hati memenggal kepala. Anda dapat melihatnya di YouTube atau di televisi. Anak-anak Afghanistan dilatih untuk mengeksekusi orang-orang Kristen. Masihkah Anda mengatakan bahwa Islam adalah agama damai? Mengapa? Islam membenci Barat."

Dia juga mengatakan: "Islam adalah sebuah revolusi dan niat untuk menghancurkan semua sistem lain Mereka ingin berkembang, seperti Nazisme.."

Lembaga pelatihan lain yang disorot oleh PRA adalah Security Solutions International (SSI), sebuah lembaga yang berbasis di Miami, yang telah bekerja dengan 1.000 lembaga penegak hukum sejak tahun 2004. SSI memberikan seminar dengan judul seperti "Ancaman Jihadis Islam", "Jihad 2", dan "Allah di Amerika".

Pada suatu seminarnya, pelatih SSI menunjukkan rekaman dari pemenggalan Daniel Pearl tahun 2002, seorang wartawan Amerika, yang sebelumnya diculik oleh al-Qaeda.

Laporan ini diterbitkan saat Komite Keamanan Dalam Negeri Senat AS tengah bersiap untuk membuka sidang kontroversial tentang radikalisasi komunitas Muslim Amerika.

Lembaga lainnya, Centre for Counterintelligence and Security Studies, yang berbasis di Alexandria, Virginia, menggunakan mantai agen-agen FBI dan CIA yang berpengalaman untuk melakukan pelatihan terhadap sekitar 8.000 aparat keamanan nasional selama setahun. Peneliti PRA tidak diizinkan untuk menghadiri seminar yang berjudul "Ancaman Doktrin Jihad Global". Tetapi berdasarkan keterangan yang diambil dari situs dan sejumlah artikel dari beberapa pelatih utamanya, seminar tersebut menggambarkan Islam sebagai ancaman eksistensial yang setara dengan komunisme.

Thomas Cincotta, penulis laporan PRA, meminta Kongres dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS untuk memulai penyelidikan terhadap dalam penggunaan uang publik untuk memberikan pelatihan yang sangat berbahaya dan tidak berguna ini. "Seminar ini hanya akan menimbulkan kesan bahwa warga negara yang taat hukum harus curiga terhadap komunitas Muslim. "

Laporan PRA tersebut pun mengatakan bahwa setelah 11 September, sejumlah besar uang dari pembayar pajak telah diinvestasikan dalam pelatihan kontra-terorisme bagi aparat penegak hukum. Untuk program pelatihan federal yang diadakan oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri pada tahun 2010 saja menghabiskan sekitar 1,7 miliar dolar AS. (althaf/arrahmah.com)

Source: http://arrahmah.com/read/2011/03/11/11268-pelatihan-anti-teror-as-penyebaran-anti-islam.html#ixzz1GFttnhvR

Penuh rekayasa, saksi dihadirkan melalui teleconference dalam persidangan Ustadz Abu Source: http://arrahmah.com/read/2011/03/11/11273-penuh-rekayasa-saksi-dihadirkan-melalui-teleconference-dalam-persidangan-us.html#ixzz1GFtbCQUZ

JAKARTA (Arrahmah.com) - Tim penasihat hukum terdakwa kasus dugaan terorisme Ustadz Abu Bakar Ba'asyir menuding ada rekayasa yang dilakukan jaksa penuntut umum terkait permohonan pemeriksaan 15 dari 138 saksi melalui teleconference.

"Kami curigai ini direkayasa supaya saksi-saksi tidak bisa bergerak bebas," kata Munarman, salah satu penasihat hukum Ba'ayir, kepada majelis hakim, seusai mendengar putusan sela di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (10/3/2011).

Tudingan itu dikatakan setelah jaksa mengajukan surat permohonan dari 15 saksi agar tidak diperiksa di ruang sidang. Permohonan itu diajukan setelah hakim menolak eksepsi Ba'asyir dan memerintahkan melanjutkan sidang dengan memeriksa saksi-saksi. "Selintas kami baca surat permohonan dari saksi-saksi ada semacam keseragaman bahasa," kata Munarman.

Munarman mengatakan, pemeriksaan saksi melalui teleconference tidak diatur dalam UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme. Selain itu, kata dia, saksi harus diperiksa dalam ruang sidang berdasarkan KUHAP.

"Kesaksian di bawah tekanan atau tidak bisa dilihat langsung di ruang sidang, bukan teleconference. Kami sangat keberatan kalau diajukan teleconference," kata Munarman.

Andi M Taufik, ketua tim jaksa, menolak alasan Munarman. Menurut dia, pemeriksaan di luar ruang sidang diatur dalam Pasal 34 UU Terorisme. Selain itu, ujarnya, pemeriksaan saksi melalui teleconference diatur dalam Pasal 9 UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. "Pemeriksaan dengan didampingi pejabat yang berwenang," ujarnya.

Menanggapi pendapat jaksa, tim pengacara tetap bersikukuh menolak permohonan itu. Munarman mengemukakan, tidak jelas apa alasan permohonan saksi-saksi. "Ancaman apa terhadap keamanan para saksi itu? Itu harus jelas. Saya kira di sini ada 2.000 polisi dan Jakarta bukan daerah konflik," lontarnya.

"Majelis memiliki kewenangan untuk memaksa kehadiran saksi-saksi, apalagi saksi-saksi itu sekarang dalam tahanan," kata Munarman menambahkan.

Andi langsung menimpali dengan menyebut, "Ini bukan kemauan kami, tapi ini kemauan mereka. Dari 138 saksi, 15 saksi yang mengajukan demikian."

Herry Swantoro, ketua majelis hakim, lalu menghentikan sementara sidang selama 90 menit untuk bermusyawarah. "Ini persoalan yang cukup pelik. Majelis akan bermusyawarah. Nanti musyawarah akan dituangkan dalam penetapan," kata Herry.

Sebelumnya, Ba'asyir prihatin dengan penanganan kasus korupsi yang berbanding terbalik dengan kasus terorisme. Menurutnya, untuk menangani teroris, gerak aparat hukum sangat cepat namun sebaliknya saat menangani korupsi.

"Kalo untuk Islam, penuh rekayasa. Kalau korupsi silakan jalan terus. Karena ini negeri kafir. Sidang ini penuh rekayasa," kata Ba'asyir di sela-sela skorsing sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta.

Skorsing tersebut lantaran 5 hakim yang mengadili Ba'asyir sedang bermusyawarah untuk menentukan apakah 14 calon saksi perlu memberikan keterangan lewat fasilitas teleconfrence.

Dengan alasan keamanan, jaksa meminta 14 saksi memberi keterangan tidak di pengadilan. Namun alasan itu dibantah pengacara, lantaran persidangan telah dijaga 3.000 personil kepolisian.

"Jakarta bukan zona darurat, tidak ada alasan keamanan," kata salah satu pengacara Ba'asyir, Achmad Michdan.

Source: http://arrahmah.com/read/2011/03/11/11273-penuh-rekayasa-saksi-dihadirkan-melalui-teleconference-dalam-persidangan-us.html#ixzz1GFtLxGJf

Ada Konspirasi Dibalik Kemenangan Ahmad Syafi’i Ma’arif di IBF?

Ada Konspirasi Dibalik Kemenangan Ahmad Syafi’i Ma’arif di IBF?

(Eramuslim.com.) Ada panorama berbeda pada pergelaran Islamic Book Fair (IBF) ke 10 tahun ini. Jika pada event-event sebelumnya, buku bernuansa kritik terhadap Pluralisme dan Liberalisme yang keluar sebagai pemenang, kini buku yang mengusung Pluralisme Agama berjudul “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan” karya Ahmad Syafii Maarif, memenangkan tropi Buku Islam Terbaik Kategori Nonfiksi Dewasa.

Terlepas dari kontroversi Pluralisme itu, Abdul Hakim, selaku perwakilan dari Penerbit Gema Insani Press yang menjagokan buku Kritik Terhadap Studi Qur’an kaum Liberal karya penulis muda Fahmi Salim, juga menilai buku Ahmad Syafi’i Ma’arif dipertanyakan keilmiahannya.

“Dari sistematika buku itu sepertinya dipaksakan, di bab-bab itu harusnya saling terkait. Kemudian di buku Indonesia Dalam Bingkai Kebhinekaan ini ada bab tertentu hanya berisi judul besar tersendiri bukan sub judul.” Ujarnya ketika dihubungi eramuslim.com, kamis malam, 10/3.

Sedangkan seorang pemerhati yang gigih melawan isu pluralism agama, mengutarakan kekecewaannya kepada eramuslim.com rabu pagi, 9/3.

“Kok bisa, acara buku Islam, yang menang orang liberal. Harusnya panitia melihat substansi diadakannya acara ini.”

Tidak hanya menjuarai kategori buku terbaik, Guru Besar Univeritas Negeri Yogyakarta tersebut juga didaulat sebagai Tokoh Perbukuan Islam 2011.

Beberapa kalangan menduga keluarnya nama Syafi’i Ma’arif tidak pas mengingat Islamic Book Fair adalah pargelaran buku Islami dengan karya-karya yang memiliki framework Islam. Sedangkan, Ahmad Syafi’i Ma’arif lebih dikenal sebagai akademisi yang ucapannya sering berbenturan terhadap ajaran Islam.

Selain itu uniknya, kini award di IBF tidak mengenal kategori juara dua, namun hanya mengakomodir juara terbaik, sedangkan peringkat di bawahnya disebut dengan nominasi.(pz)

WR. Soepratman seorang Ahmadiyah? Dan Bagaimana Sikap Umat Muslim

(Eramuslim.Com.) Dalam sebuah sumber yang tersebar di dunia maya menyebutkan bahwa WR. Soepratman adalah seorang pengikut Ahmadiyah. Tidak ada yang tidak mengenal tokoh legendaris ini. Para nasionalis bangsa Indonesia sangat hafal lagu yang diciptakannya.

Tiap hari pelajar sekolah bahkan wajib menyanyikannya dalam upacara sekolah, sambil membentangkan tangan ke kening menghormat sebuah kain merah putih yang diderek petugas. Tidak hanya itu anggota DPR pun kerap menyanyikan lagu bernuansa nasionalisme ini ketika hendak memulai rapat. Mau itu dari partai nasionalis, sosialis, atau partai Islam sekalipun.

Bahkan Kelurahan Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, warganya yang hendak membuat KTP diharuskan untuk menyanyikan lagi kehormatan bagi bangsa Indonesia ini demi mengorankan semangat patriotisme kepada Negara dan Pancasila.

WR. Soepratman memang selama ini dikenal sebagai pencipta lagu Indonesia raya. Namanya sangat tersohor karena lagu tersebut dijadikan lagu wajib bagi rakyat Indonesia. Hari kelahiran Soepratman sendiri pada tanggal 9 Maret, oleh Megawati saat menjadi presiden RI, diresmikan sebagai Hari Musik Nasional.

Isu seputar darah Ahmadiyah di tubuh Pahlawan Nasional tersebut diamini oleh Amir Nasional Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), Abdul Basith. Ia mengatakan, selama berkembang di Indonesia sejak tahun 1953, JAI telah aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Seperti dikutip inilah.com, 16/2, Salah satu pengurus besar Jemaah Ahmadiyah tersebut kemudian melanjutkan bahwa bangsa Indonesia berhutang besar kepada Ahmadiyah, karena, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ternyata diciptakan oleh Jamaah Ahmadiyah.

Siapakah WR. Soepratman.
Ia bernama lengkap Wage Rudolf Supratman. Lahir di Jatinegara, Batavia, 9 Maret 1903 dan meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 17 Agustus 1938 pada umur yang sangat muda, 35 tahun.

Seperti dikutip dari Wikipedia, Ayahnya bernama Senen, sersan di Batalyon VIII. Saudara Soepratman berjumlah enam, laki satu, lainnya perempuan. Salah satunya bernama Roekijem. Pada tahun 1914, Soepratman ikut Roekijem ke Makassar. Di sana ia disekolahkan dan dibiayai oleh suami Roekijem yang bernama Willem van Eldik.

Soepratman lalu belajar bahasa Belanda di sekolah malam selama tiga tahun, kemudian melanjutkannya ke Normaalschool di Makassar sampai selesai. Ketika berumur 20 tahun, lalu dijadikan guru di Sekolah Angka 2. Dua tahun selanjutnya ia mendapat ijazah Klein Ambtenaar.

Beberapa waktu lamanya ia bekerja pada sebuah perusahaan dagang. Dari Makassar, ia pindah ke Bandung dan bekerja sebagai wartawan di harian Kaoem Moeda dan Kaoem Kita. Pekerjaan itu tetap dilakukannya sewaktu sudah tinggal di Jakarta. Dalam pada itu ia mulai tertarik kepada pergerakan nasional dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan. Rasa tidak senang terhadap penjajahan Belanda mulai tumbuh dan akhirnya dituangkan dalam buku Perawan Desa. Buku itu disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda.

Bagaimana Sikap Islam
Islam sendiri sebenarnya tidak mengenal lagu kebangsaan sebuah negara. Bagi Islam, status kewarganegaraan seorang mukmin adalah akidahnya. Akidah dan tauhid-lah yang paling tinggi mengalahkan seruan bendera nasionalisme apapun.

Kalimat syahadat adalah bukti eksistensi terluhur seorang muslim kepada RabbNya. Ia menghujam kepada lubuk sanubari. Memupuskan tali temali yang mengikat antara satu jenis ras manusia dengan yang lainnya. Hingga Asy Syahid Sayyid Quthb pernah mengatakan:

”Kewarganegaraan” yang dikehendaki oleh Islam untuk manusia adalah kewarganegaraan aqidah, di mana sama seorang Arab dengan seorang Romawi, seorang Persi, setiap jenis dan warna di bawah panji-panji Allah. Dan inilah jalannya.

Oleh karena itu, tidak ada tolak ukur Iman seorang muslim diukur dari apakah ia faham lagu kebangsaan atau tidak. Apakah ia hafal bait per bait senandung lagu nasional atau tidak. Atau apakah ia taat menyanyikan lagu penyeruan pada suatu bangsa tertentu sebelum rapat atau tidak. Bunyi Ayat Qur’an dan Hadislah sebuah manifesto suara terhebat yang mampu menggetarkan Iman seorang yang berikrar: bahwa Allah adalah ilah satu-satunya yang patut disembah!

Karena itu kita bisa melihat bagaimana pejuang muslim saat memperjuangkan Indonesia dalam mengusir kafir Belanda dibakar dengan sebuah semangat dengan seruan tertinggi di muka bumi, yakni Allahuakbar.

Sang Ibu pun Menangis Melihat Beatty Memakai Jilbab

Sang Ibu pun Menangis Melihat Beatty Memakai Jilbab

Diana Beatty pertama kali bertemu dengan seorang muslim saat di bangku kuliah. Setelah itu ia mengenal beberapa muslim lagi yang pelan-pelan membuatnya sadar betapa selama ini ia bersikap arogan terhadap Islam dan Muslim.

Beatty banyak mendengar informasi tentang Islam dan Muslim, tapi kebanyakan yang ia dengar adalah hal-hal yang buruk. Setelah berinteraksi dengan beberapa Muslim yang dijumpainya, muncul rasa ingin tahu yang besar dalam dirinya untuk lebih mengenal Islam, karena orang-orang Islam ia jumpai menunjukkan sikap dan perilaku yang membuatnya kagum, jauh berbeda dengan apa yang ia dengar selama ini. Beatty juga tertarik dengan ketulusan dan aspek-aspek peribadahan yang dilakukan orang Islam, terutama salat.

"Agama yang membimbing kita dalam semua aspek kehidupan, adalah sesuatu yang saya cari selama ini. Saya dibesarkan sebagai seorang Kristiani dan ketika saya mengenal beberapa orang Islam, saya adalah orang yang lumayan religius dan serius mempelajari Alkitab," kisah Beatty.

"Tapi banyak pertanyaan saya tentang isi Alkitab yang tidak terjawab, dan saya justru menemukan jawabannya dalam Al-Quran. Awalnya, saya tidak suka membaca isi Al-Quran karena Al-Quran menyebutkan bahwa Yesus bukan anak Tuhan dan Al-Quran menyebut tentang perang yang membuat saya teringat kembali pada apa yang saya dengar tentang teroris muslim dan kekerasan ..."

"Tapi orang-orang Islam yang saya kenal, menjadi contoh buat saya seperti apa sebenarnya seorang muslim dan saya melihat bahwa stereotipe yang terbangun dalam pandangannya saya selama ini tentang muslim, tidak sesuai dengan fakta yang saya lihat," tutur Beatty.

Perempuan asal Colorado AS itu pun berpikir, bagaimana ia bisa tahu bahwa Alkitab itu benar dan Al-Quran salah, jika ia tidak mempelajarinya. "Terutama ketika banyak hal yang sama antara keduanya, Alkitab dan Al-Quran sepertinya berasal dari sumber yang sama," sambung Beatty.

Semakin dalam mempelajari Al-Quran, Betty menemukan perbedaannya dengan Alkitab. Dalam Alkitab ia menemukan banyak kesalahan dan kontradiksi, tapi tidak dalam Al-Quran. Ia mengatakan, "Apa yang Quran katakan tentang Tuhan dan apa tujuan manusia hidup di dunia, buat saya lebih logis dan mudah untuk dipahami."

Berbulan-bulan Beatty melakukan perbandingan antara agama Kristen yang dianutnya dengan agama Islam yang sedang dipelajarinya. Dan masa itu merupakan masa-masa yang sulit baginya. Tapi hati Beatty memenangkan Islam. Ia makin yakin bahwa Islam adalah agama yang benar, yang dikirim Allah untuk umat manusia.

"Saya pun memutuskan untuk masuk Islam. Saat itu saya masih belum yakin tentang banyak hal, khususnya tentang jilbab. Saya juga belum tahu bagaimana melakukan salat, dan peribadahan lainnya. Tapi saya mulai belajar," ungkap Beatty.

Ia tak membantah bahwa di hati kecilnya ada rasa takut ketika memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Berat baginya membayangkan akan berhadapan dengan keluarganya dan melakukan sesuatu yang mereka benci dan tidak mereka mengerti. Sempat tebersit dalam hatinya, bagaimana jika ia membuat keputusan yang salah? Beatty khawatir respon negatif yang akan ia terima dari teman-temannya, rekan kerja, atasan di kantor dan ia khawatir dikeluarkan dari keluarganya.

Keluarga Beatty memang tidak suka melihat Beatty menjadi seorang muslim, tapi Beatty tetap diterima oleh keluarganya. "Tiap kali saya berbincang dengan ibu, dia mengeluhkan busana muslimah yang saya kenakan, sepertinya hal itu sangat mengganggunya lebih dari apapun dan ia akan menyodorkan berbagai literatur Kristen pada saya," tutur Beatty.

Beatty bercerita, ibunya merasa terluka dan menangis seminggu penuh ketika Beatty memutuskan untuk mengenakan jilbab. Dalam surat, sang ibu mengatakan bahwa apa yang dilakukan Beatty adalah tamparan keras di wajahnya, Beatty dianggap telah melanggar didikan orang tuanya dan sedang berusaha menjadi orang Arab. Keluarga Beatty juga menuding bahwa Beatty melakukan itu gara-gara suami Beatty yang seorang muslim. Keluarga Beatty tidak menyukainya dan meminta Beatty bercerai.

"Keluarga saya bilang, saya akan masuk neraka. Buat saya, tidak sulit menghindar dari makanan yang tidak halal, menjauhkan diri dari alkohol. Tidak sulit buat saya untuk belajar salat dan mengenakan jilbab. Satu-satunya yang berat buat saya adalah menyakiti keluarga saya dan terus-terusan ditekan oleh mereka," imbuh Beatty.

Pada titik ini Beatty merasakan, tantangan yang berat setelah ia menjadi muslim adalah keluarganya sendiri, karena teman-teman dan orang-orang yang ia kenal, ternyata bisa menerima pilihannya menjadi muslim.

Tiga tahun sudah Beatty memeluk Islam. Ia mengakui bahwa Islam banyak memberikan perubahan dan meningkatkan kualitas hidupnya. "Islam mengubah saya secara total. Sekarang, saya tidak ragu lagi akan tujuan hidup saya di dunia ini dan bahwa saya sudah mengikuti jalan yang benar. Dulu, saya bahkan tidak menyadari bahwa saya sedang kehilangan arah. Tapi ketika saya menemukan Islam dan merenungkannya kembali, sangat jelas buat saya bahwa Islam-lah yang saya cari selama ini," papar Beatty.

Beatty bersyukur menjadi seorang muslim karena Islam memualiakan hidupnya sebagai seorang perempuan. Ia melihat sendiri bahwa lelaki muslim yang baik akan memperlakukan perempuan dengan baik. Suatu hal yang jarang ia temui dalam budaya masyarakat Amerika, dimana ia dibesarkan.

"Memilih masuk Islam, buat saya seperti kembali pulang ke rumah setelah sekian lama berkelana," tandas Beatty yang sekarang menggunakan nama Islami Masuuma Amatullah.
Sumber: Eramuslim.com