Seputar Dunia dan Akhirat

Seputar Dunia dan Akhirat
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juni 2011

Umur 18 Tahun Ibnu Khaldun Sudah Menguasai Ilmu Islam dan Umum, Kenapa Anak Kita Masih Les?

Umur 18 Tahun Ibnu Khaldun Sudah Menguasai Ilmu Islam dan Umum, Kenapa Anak Kita Masih Les?


Hebat sekali, pada umur 18 tahun Ibnu Khaldun sudah menguasai ilmu keislaman dan umum. Pada umur itu ia juga sudah mandiri dalam belajar dan tidak bergantung kepada seorang guru. Tentunya apa yang dialami Ibnu Khaldun berbeda dengan anak-anak kita saat ini, dimana pada umur sekian masih disibukkan dengan les sana- les sini. Anak-anak kita pun belum mandiri dalam belajar dan masih harus terikat pada seorang guru.
Temuan itu diungkap oleh Dinar Kania Dewi, Kandidat Doktor Pendidikan Islam, dalam Diskusi Sabtuan INSISTS, berjudul Konsep Pendidikan Ibn Khaldun dalam Kitab Muqaddimah, Sabtu, 25/06/2011.
Ibnu Khaldun (1332 M/732 H) merupakan salah satu ilmuwan besar yang lahir ketika peradaban Islam mengalami ujian berat di Timur maupun di Barat. Bisa dikata Ibnu Khaldun adalah ulama langka. Namanya harum hingga Eropa dan Amerika sebagai asset ilmuwan dunia yang menguasai berbagai jenis keilmuan.
Selain menguasai ilmu hadis dan fiqh, Ibn Khaldun juga menguasai ilmu-ilmu rasional (filosofis), yaitu teologi, logika, ilmu alam, matematika dan astronomi. Selain itu, Ibnu Khaldun juga seorang pendidik.
Berbeda dengan konsep Pendidikan Sekular, Ibn Khaldun berpandangan bahwa kebenaran yang hakiki bersumber dari Allah SWT. “Ibnu Khaldun selalu meletakkan wahyu sebagai premis mayor, bukan premis minor,” kata Dinar.
Dalam kitabnya Muqaddimah, Ibnu Khaldun juga menyoroti problematika pendidikan pada zamannya yang masih relevan hingga saat ini. Menurut Ulama yang pernah menjadi Qadi di Universitas Al Azhar itu, ringkasan yang biasa diperintahkan seorang guru kepada murid adalah salah satu bentuk masalah dalam pengajaran.
“Ini bisa jadi intropeksi juga bagi kita, yang kadang suka baca buku ringkasan, ketimbang buku rujukannya langsung,” sambung Ibu dua anak ini.
Selain itu, beragamnya metode dalam pendidikan menyebabkan pelajar menghabiskan banyak waktu dan energi untuk menguasai berbagai metode yang sebenarnya maknanya satu dan sama. Dinar pun akhirnya mengkritik kebijakan pemerintah yang kerap berganti-ganti kebijakan.
“Saat ini pemerintah kita ganti menteri, ganti kebijakan. Metode pun berbeda-beda dalam pendidikan kita saat ini dari mulai quantum learning, accelerated learning, hipnoparenting dan lain sebagainya.” Kritik Direktur Operasional Andalusia Islamic Education Management Service itu.
Salah satu ciri khas konsep pendidikan yang dilahirkan oleh Ulama kelahiran Tunisia tersebut adalah apa yang disebut dengan malakah. Malakah bisa dikatakan kebiasaan yang sudah mengakar dalam diri seseorang hingga bentuk perbuatan itu dengan kokoh tertanam (dalam pikiran). Mencapai malakah hanya dimungkinkan melalui pembelajaran yang bertahap (tadrij) disertai pengulangan dan pembiasaan.
“Malakah akan menciptakan pengetahuan reflek pada seseorang. Ilmu yang sudah dipelajarinya akan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.” jelas Dinar
Metode paling mudah untuk memperoleh malakah, kata Ibnu Khaldun, adalah dengan melalui latihan diskusi atau debat ilmiah guna mengungkapkan pikiran-pikiran dengan jelas dan perdebatan masalah-masalah ilmiah. Inilah cara yang mampu menjernihkan persoalan dan menumbuhkan pengertian dan bukan melalui hapalan tanpa memahami makna yang terkandung di dalamnya
“Makanya, Ibnu Khaldun itu dianggap ahli dalam ilmu retorika,” ungkap Dinar.
Ada tiga hal metode pengajaran yang diperkenalkan oleh Ibnu Khaldun. Pertama adalah Penyajian Global (sabil al-ijmal). Pada tahap awal pengajaran sebuah disiplin ilmu/ aspek keterampilan, guru hendaknya menyajikan hal-hal pokok, problem-problem yang prinsip dari setiap materi pembahasan dalam bab-bab yang dijelaskan. Keterangan atau penjelasan dari guru harus bersifat global (ijmal) serta memperhatikan potensi intelek (aql) dan kesiapan (isti’dad) dari masing-masing peserta didiknya untuk menangkap apa yang diajarkan kepadanya.
Kedua, Pengembangan (al-syarh wa al-bayan). Pengetahuan atau keterampilan yang disajikan harus diangkat ketingkat yang lebih tinggi. Guru harus menyertakan ulasan tetang berbagai aspek yang menjadi kontradiksi di dalamnya dan ragam pandangan (teori) yang terdapat pada materi tersebut. Keahlian pelajar pada tahap ini harus lebih disempurnakan.
Terakhir adalah penyimpulan (takhallus).Pokok pembahasan harus disampaikan dengan lebih mendalam dan lebih rinci dalam konteks yang menyeluruh. Segala aspek yang ada berserta pemahamannya harus dipertajam lagi dan semua masalah penting, sulit dan kabur harus dituntaskan. Pada tahap terakhir ini diharapkan malakah dari pelajar mencapai kesempurnaan. (pz)
Sumber; http://www.eramuslim.com/berita/nasional/umur-18-tahun-ibnu-khaldun-sudah-menguasai-ilmu-islam-dan-umum-kenapa-anak-kita-masih-les.htm

“Jangan Ajarkan Surga dan Neraka Dulu Pada Anak, Lho?”

“Jangan Ajarkan Surga dan Neraka Dulu Pada Anak, Lho?”

Konsep Pendidikan anak ala Barat yang mengajarkan untuk tidak mengenalkan surga dan neraka dahulu pada anak mulai menjadi tren di kalangan orang tua muslim. Mereka menilai penjelasan surga dan neraka akan membuat anak bingung karena hal itu dinilai tidak konkret.
Hal inilah yang dikritik tajam oleh Dinar Kania Dewi. Kandidat Doktor Pendidikan Islam yang aktif di INSISTS itu menilai kejadian ini tidak terlepas dari konsep worldview Barat yang belum dipahami umat Islam.
“lmu Barat itu menjadikan rasio sebagai satu-satunya alat ilmu pengetahuan dan metafisik dihilangkan. Kalau sudah seperti itu, tentunya ini akan berpengaruh pada metodologi pembelajaran.” Ujarnya saat ditemui Eramuslim.com, Sabtu siang, 25/06/2011.
Penjelasan para praktisi parenting yang mengatakan konsep ini sudah melewati serangkaian penelitian pun dipertanyakan oleh Dinar.
“Kita harus hati-hati terhadap penelitian. Penelitian itu akan sangat bergantung dari worldview si peneliti. Penelitian ilmiah itu dalam kategori Barat bermasalah. Barat mengenyampingkan otoritas wahyu karena wahyu dinilai tidak ilmiah. Sedangkan dalam Islam wahyu itu sangat ilmiah. Makanya penelitian-penelitian Barat secara metodologi bermasalah.” Tambah Direktur Operasional, Andalusia Islamic Education and Management Service (AIEMS) ini
Dinar memberikan contoh kekeliruan konsep penelitian Barat pada kasus Spiritual Quotient yang banyak dipakai dalam pelatihan-pelatihan kepribadian.
“Seperti pada konsep SQ Danah Zohar, siapa yang dijadikan sampel penelitannya?” tanya Dinar.
“Itu orang-orang yang sakit ayan. Dari orang yang sakit ayan itu mereka melihat ada pencapaian SQ. Itu dibilangnya ilmiah. Padahal itu dalam Islam sangat tidak ilmiah.” Paparnya.
Menurut Dinar, Islam menjadikan orang-orang yang baik dan soleh sebagai objek penelitian, “Dalam Islam jika ingin melihat orang yang mencapai tingkat spiritualitas yang dijadikan objek penelitian (adalah) orang-orang sholeh, bukan orang sakit ayan.”
Dinar berpesan kepada para praktisi parenting dan orang tua untuk hati-hati dalam menerapkan ilmu parenting Barat kepada anak. Nilai-nilai sekularisme banyak masuk lewat pintu pendidikan.
“PR kita masih banyak. Paling adil saat melihat suatu penelitian, kita lihat dulu siapa yang meneliti, metode apa yang digunakan.”
Akhirnya dalam penilaian Dinar, minimal ada tiga hal yang dihindari dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ala Barat, yaitu mengenyampingkan hal-hal yang metafisik, hukuman fisik, dan konsep hafalan. (pz)
Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/nasional/jangan-ajarkan-surga-dan-neraka-dulu-pada-anak-lho.htm